Mendukung Dunia Kesehatan Lewat Open Source
Fri - 14 Oct
Written by Administrator
Sistem informasi manajemen (SIM) juga diperlukan oleh rumah sakit atau lembaga kesehatan guna melancarkan layanan mereka kepada pasien. Salah satu SIM rumah sakit yang menarik adalah MetaCare yang berbasis open source software (OSS).
MetaCare dikembangkan oleh sebuah perusahaan software asal Bandung, PT Metasistem Solusi. Menurut Aries Setiabudi, CEO Metasistem Solusi, pihaknya memang sengaja mengembangkan MetaCare menggunakan OSS. Pasalnya, mereka merasa prihatin dengan banyaknya aplikasi kesehatan yang harga lisensinya mencapai milyaran rupiah. Apalagi, pasar untuk aplikasi-aplikasi tersebut dibanjiri oleh produk impor.
“Selain harganya mahal, mayoritas aplikasi tersebut mengadopsi lisensi closed source atau propietary software,” ungkap Aries. Menurutnya, kondisi itu sangat merugikan pengguna sistem aplikasi karena membuat mereka menjadi sangat bergantung kepada vendor.
Masih ada kelemahan lain dari proprietary software. “Yang memprihatinkan adalah, lemahnya audit IT atas sistem informasi yang digunakan karena tertutupnya akses terhadap kode sumber (source code) program aplikasinya,” kata Aries. Karena alasan itulah, dia dan timnya berinisiatif membangun aplikasi layanan kesehatan berbasis OSS.
Kampanye Pemanfaatan OSS
Aries mengembangkan MetaCare bersama rekan-rekannya, Hendrik Saragih, Ihsan Nurdiansyah, dan Syafikli Musyafako. Sejak September 2009, tim mereka ikut dibantu oleh Muhammad Reza Kamarullah. Memang, sejak 1999, perusahaan yang digawangi Aries sudah gencar mengampanyekan pemanfaatan OSS yang terbukti punya lebih banyak keunggulan ketimbang propietary software.
“OSS dapat menekan investasi di sisi software, menekan angka pembajakan software, mendorong proses pembelajaran bagi SDM yang terlibat di setiap tingkatan manajemen, serta mampu mendorong keterbukaan dan kejujuran dalam kerja sama tim,” paparnya.
Itulah sebabnya tim mereka mengembangkan MetaCare—Healthcare Management System menggunakan sistem operasi server Linux/FreeBSD serta peranti development dan deployment seperti PHP, AJAX, Python, dan Apache Web Server. Untuk database server-nya, mereka menggunakan PostgreSQL. “Sistem operasi di server yang kami gunakan adalah Linux/FreeBSD, terutama Ubuntu Linux,” kata Aries.
OSS Jauh Lebih Unggul
Saat ini, kata Aries, MetaCare telah digunakan di jaringan 20 klinik kesehatan di bawah Pertamina Bina Medika Medical Center (PMC). “Dan di seluruh jaringan Rumah Sehat Indonesia—Rumah Zakat Indonesia yang sudah diimplementasikan sejak Januari 2010,” imbuhnya.
Mengenai keunggulan OSS dari sisi implementasi, Aries menyampaikan pengalaman kliennya. “Awalnya pihak PMC akan mengembangkan aplikasinya menggunakan solusi dari Oracle, dengan estimasi biaya sekitar Rp1 miliar,” ujarnya. Dibandingkan dengan implementasi sistem serupa yang berbasis OSS, biaya itu sangatlah tinggi. “Proposal kami hanya memerlukan biaya Rp120 juta untuk masa pengembangan, migrasi, transisi, dan implementasi selama 6 bulan,” tutur Aries. Dari situ bisa dilihat bahwa OSS jauh lebih hemat ketimbang proprietary software.
Bagaimana soal tampilannya? Banyak pengguna komputer mengeluhkan desain aplikasi berbasis OSS yang kurang bersahabat. Karena itu, agar pengguna MetaCare bisa cepat beradaptasi dengan aplikasinya, Aries dan timnya memilih untuk menggunakan teknologi AJAX untuk antarmuka di sisi pengguna (front-end). “Dengan begitu, tampilannya benar-benar mendekati aplikasi berbasis desktop. Tampilan menunya pun kami buat seperti startup menu di Windows,” ungkap Aries.
Keunggulan lain dari OSS ada pada sisi keamanannya. “OSS unggul dalam hal akses ke source code aplikasi, sehingga aplikasinya dapat diaudit untuk memastikan tidak ada malware di dalamnya,” kata Aries. Menurutnya, Linux memang memiliki sistem yang lebih tangguh terhadap serangan virus dan malware—aplagi jika dibandingkan dengan Windows.
Bisa dibilang, akses terhadap source code merupakan hal yang paling diunggulkan oleh OSS. Menggunakan OSS, tak ada lagi alasan bagi pihak pengembang untuk “menyandera” aplikasi buatan mereka. Jika mau, klien—dalam hal ini rumah sakit—dapat mengembangkan sendiri aplikasi yang telah ada.
Untuk memudahkan kliennya, MetaCare juga dilengkapi dengan akses langsung ke repository yang tersedia pada server. “Dengan begitu, klien selalu dapat memantau perkembangan aplikasinya langsung melalui source code,” kata Aries.
Dia dan timnya mengembangkan SIM rumah sakit itu dari nol. Kenapa? “Fleksibilitas dan originalitas adalah tujuan utama kami. Kami ingin MetaCare mampu secara fleksibel diadopsi dan diadaptasikan di lingkungan bisnis layanan kesehatan Indonesia yang cenderung belum terstandardisasi, kecuali format laporannya ke Departemen Kesehatan,” ucapnya.
Sebagai sistem informasi yang cerdas, MetaCare mampu bekerja di lingkungan yang terdistribusi. Aplikasi ini dapat digunakan di beberapa cabang rumah sakit, serta bisa melakukan sinkronisasi antarcabang, dari cabang ke kantor pusat, atau sebaliknya. Keunggulan lainnya, aplikasi MetaCare juga terintegrasi dengan fitur back-office, seperti accounting, keuangan, supply chain management, logistik, serta persediaan dan manajemen aset.
Fungsi yang dimiliki oleh MetaCare juga sudah lengkap. Dari sisi front-end, sistem ini dilengkapi dengan fitur manajemen pasien, catatan medis, daftar layanan dan tarifnya, beserta sistem billing. Sementara di sisi back-end, sistem ini sudah mendukung supply chain management, inventory manajemen aset, sistem akuntansi, sistem administrasi, serta sistem HRD dan payroll. Tak heran, dengan basis OSS, aplikasi ini keluar menjadi juara pertama dalam ajang Indonesia ICT Award (IANICTA) 2010 untuk kategori Open Source Software.
Tantangan
Diakui oleh Aries, banyak tantangan mereka hadapi dalam pengembangan MetaCare. “Tantangan terbesarnya adalah, rendahnya kepercayaan pasar nasional atas mutu aplikasi yang dikembangkan oleh vendor lokal. Padahal, selama ini banyak sekali vendor luar negeri yang melakukan outsourcing ke Indonesia,” paparnya.
Selain itu, masih banyak orang atau lembaga yang menilai bahwa OSS sulit digunakan dan dipelajari. Tantangan lainnya, perlu waktu yang cukup lama untuk melakukan implementasi software berbasisi OSS di kalangan pengguna karena banyak dari mereka sulit melakukan perubahan budaya.
Untuk mempermudah pengguna, MetaCare dirancang agar tidak menuntut sumber daya dan prasarana yang tinggi. “Dengan komputer PC rakitan pun, MetaCare sudah dapat dioperasikan secara optimal,” kata Setiabudi. Dalam waktu dekat, timnya juga akan mengembangkan aplikasi mobile untuk MetaCare. Dengan begitu, sistem MetaCare dapat diakses melalui beragam platform, seperti BlackBerry, Android, Symbian, Windows Mobile, dan iPhone. (Restituta Ajeng Arjanti)
Source from :
leadershipqb.com